Senin, 16 Oktober 2017

Esai beasiswa Unggulan Kemendikbud



Aku Generasi Unggul Kebanggaan Bangsa Indonesia
Nandang Nurdiansah, Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
           
            Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai macam agama, ras dan suku. Indonesia bukan hanya milik satu golongan. Indonesia adalah milik kita semua, kita yang hidup, tumbuh dan tinggal di bumi Indonesia. Tak terasa 71 tahun bangsa ini telah merdeka. Pengorbanan dan perjuangan para pahlawan serta founding fathers bangsa ini telah berhasil menyelamatkan kita, anak cucu mereka dari penjajahan yang sangat menyengsarakan. Kita adalah generasi yang tidak perlu mengambil bambu runcing berlari ke hutan bergerilya untuk berperang, tidak perlu beradu senjata, kita hanya cukup melanjutkan kemerdekaan dengan berusaha mewujudkan cita-cita luhur negara dan para pahlawan bangsa ini.
            Menjadi bagian dari negara ini membuat saya semakin bersyukur. Bersyukur atas keberagaman yang ada pada bangsa ini. Dari Sabang sampai Merauke berbagai ras, suku, agama dan budaya adalah anugerah serta ciri khas bangsa ini yang tidak dimiliki oleh bangsa apapun di dunia. Kita adalah bangsa yang kaya, selain kaya dengan sumber daya alamnya, kitapun kaya dengan keberagaman.
            Akhir-akhir ini negara kita selalu dikejutkan dengan berbagai permasalahan yang tak kunjung selesai. Salah satunya adalah permasalahan sosial yang dilatar belakangi oleh perbedaan. Perbedaan pendapat, pilihan, suku hingga agamapun kian meramaikan polemik yang terjadi dikalangan masyarakat saat ini. Puncaknya adalah ketika pilkada DKI Jakarta yang baru saja diselenggarakan. Hampir saja negeri ini kehilangan jiwa kebhinakaannya. Perselisihan dan perpecahan terjadi dimana-mana. Golongan satu dan golongan lainnya saling tarik urat saraf. Masyarakat terpecah kedalam beberapa golongan serta saling menunjukkan bahwa kebenaran ada pada pihak mereka. Sangat tidak harmonis lagi. Suasana semakin panas dengan adanya pengaruh media sosial yang digunakan oleh para oknum untuk saling memprovokasi. Yang menarik adalah, adanya sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa agamalah sebab dari perpecahan ini. Ini sangat mengejutkan. Bagaimana ini bisa terjadi? lalu benarkah agama adalah penyebab perpecahan dan perselisihan yang terjadi selama ini?
            Saat ini dikutip dari Badan Pusat Statistik (BPS)  tercatat ada enam agama yang diakui di Indonesia. Enam agama tersebut adalah Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Penganut agama terbanyak adalah penganut agama Islam dengan jumlah 207.176.162 jiwa atau sebanyak 87.18% dari penduduk Indonesia seluruhnya. Konflik masyarakat beragama yang terjadi saat ini menyebabkan semakin kurangnya rasa toleransi dikalangan masyarakat. Setiap golongan saling menunjukkan bahwa merekalah yang paling benar. Pengaruh media sosial dimanfaatkan oleh sebagian oknum untuk saling memprovokasi. Saling menjatuhkan dan saling menyalahkan. Ada beberapa hal yang menyebabkan konflik dikalangan masyarakat saat ini tak kunjung berhenti:
1. Kurangnya ilmu dan pengetahuan masyarakat terhadap ajaran agama yang benar. Kita semua menyadari bahwa ilmu dan pengetahuan yang benar bisa kita dapatkan di sekolah, lembaga pendidikan, universitas dan tempat lainnya yang telah diakui oleh pemerintah dan masyarakat. Hal lain yang juga mengejutkan kita adalah masih banyaknya anak-anak Indonesia yang tidak mengenyam pendidikan yang telah diwajibkan oleh pemerintah. Menurut data dari Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2017 jumlah siswa putus sekolah jenjang Sekolah Dasar mencapai 39.213  siswa. Adapun pada jenjang sekolah Menengah Pertama jumlahnya mencapai 38.702 siswa. Saat ini kita memang belum merasakan dampak yang nyata dari data diatas. Akan tetapi sepuluh tahun dua puluh tahun di masa yang akan datang hal ini bisa saja mengancam kita semua. Pemahaman serta pengetahuan masyarakat yang tidak sekolah akan berbeda dengan mereka yang bersekolah. Mereka akan lebih mudah dipengaruhi oleh paham-paham yang bertentangan dengan ajaran agama yang benar dan juga paham-paham nasionalisme yang salah seperti radikalisme dan terorisme. Bukan tidak mungkin jika hal ini dibiarkan keutuhan dan persatuan bangsa ini akan semakin mudah digoyahkan. 
2.  Masih tingginya angka kemiskinan. Dimana-mana di seluruh pelosok negeri ini, kita masih menemukan banyak sekali masyarakat miskin yang sangat kekurangan. Kemiskinan tidak bisa kita biarkan karena dampak negatifnya sangat besar. Putus sekolah, tidak melanjutkan pedidikan adalah buah hasil dari kemiskinan yang dirasakan masyarakat. Pendidikan wajib yang telah disediakan oleh pemerintah tidak berjalan lancar begitu saja, nyatanya masih banyak para orang tua yang mengajak anak-anaknya untuk bekerja tanpa sekolah, bahkan yang semakin mirisnya banyak anak-anak Indonesia yang sudah tidak lagi mempedulikan pentingnya pendidikan. Banyak dari mereka yang memilih untuk tidak bersekolah. Dampak yang lebih berbahaya adalah disaat kemiskinan menjadikan mereka melakukan segala hal agar terlepas dari kemiskinan. Seringkali kita mendengar adanya beberapa masyarakat yang rela menerima uang dengan syarat menjadi anggota kelompok tertentu atau melakukan aksi dan perbuatan yang memicu konflik dikalangan masyarakat.
Dua sebab inilah yang seringkali memicu konflik perselisihan dan perpecahan dikalangan masyarakat. Konflik yang baru saja terjadi juga bukan karena perbedaan agama yang dianut oleh masyarakat. Melainkan sebab yang paling mendasarinya adalah dua hal diatas. Beberapa upaya yang harus segera kita lakukan antara lain:
Pada sebab yang pertama, menurut saya upaya yang harus dilakukan adalah kerjasama antara masyarakat dengan pemerintah. Wilayah-wilayah yang masih sedikit lingkungan keilmuan dan pengetahuannya bisa mengadakan kegiatan-kegiatan sosial yang secara tidak langsung mengajari masyarakat tentang ilmu pengetahuan agama yang benar, misalnya apabila masyarakat setempat adalah pemeluk agama Islam bisa diadakan pengajian rutinan. Adapun untuk anak-anak bisa membudayakan ngaji di langgar-langgar, musholla ataupun masjid yang juga diawasi oleh para orang tua. Untuk anak-anak yang putus sekolah, pemerintah juga harus bisa mendata mereka dengan jelas yang dibantu oleh masyarakat setempat atau pengawas lingkungan yang bersangkutan. Setelah mereka terdata mereka bisa dikumpulkan dan diberi pengarahan ke arah pendidikan. Tentunya hal ini memerlukan usaha yang lebih yaitu kerjasama yang konsisten antara masyarakat dan pemerintah. Dalam hal ini saya dan generasi unggul kebanggaan bangsa Indonesia yang lainnya berkomitmen akan ikut serta membantu dalam menanamkan semangat belajar kepada mereka, memberi motivasi, bahkan mendampingi mereka di wilayah kami masing-masing.
Pada sebab yang kedua, upaya pemerintah dalam penyediaan lapangan pekerjaan harus lebih ditingkatkan. Setiap daerah harus memperhatikan angka pengangguran supaya angka kemiskinan tidak meningkat. Disamping itu bantuan kepada mereka yang benar-benar miskin harus tetap berjalan. Problematikanya adalah masih banyaknya masyarakat miskin yang terkadang tidak mendapatkan bantuan sedangkan masyarakat yang tidak terlalu miskin bahkan berkecukupan terkadang mendapatkan bantuan. Hal ini juga kadang terjadi dalam dunia pendidikan. Ada beberapa beasiswa yang diperuntukkan untuk mahasiswa miskin berprestasi namun masih seringkali tidak tepat sasaran. Terkadang orang-orang yang berkecukupan ikut mengambil jatah dalam beasiswa tersebut. Maka pemerintah harus terjun ke lapangan, mengetahui secara langsung agar bantuan-bantuan tersebut tepat sasaran kepada yang membutuhkan.                    
Oleh karena itu, segala usaha dan upaya untuk menjaga dan meneruskan kemerdekaan bangsa ini harus segera kita lakukan. Toleransi menjadi salah satu faktor pemersatu yang sangat penting dalam menjaga kedamaian bangsa Indonesia, karena negara kita berdiri diatas keberagaman masyarakat yang tinggal diatasnya. Jika jiwa toleransi mulai pudar dikalangan masyarakat, konflik perselisihan dan perpecahan yang saat ini terjadi akan terus berlanjut. Semakin lama konflik itu akan tumbuh semakin besar dan berbahaya. Dalam hal ini peran para akademisi termasuk mahasiswa sangatlah dibutuhkan. Saya sebagai mahasiswa jurusan bahasa dan sastra arab mempunyai visi untuk menjadi perekat masyarakat. Menanamkan serta menumbuhkan kembali jiwa toleransi ditengah-tengah mereka. Usaha saya dalam mempelajari bahasa dan sastra arab tidak lepas dari tujuan untuk ikut menjaga persatuan bangsa ini. Karena bahasa arab adalah bahasa agama Islam dan bahasa Al Quran. Mayoritas masyarakat Indonesia adalah pemeluk agama Islam. Salah satu penyebab pudarnya toleransi  dikalangan umat Islam adalah karena sebagian besar dari mereka tidak memahami bahasa kitab suci mereka. Sehingga paham-paham yang bertentangan dengan agamapun lebih mudah menyebar dan diikuti oleh masyarakat yang minim ilmu pengetahuan agama.
Harapan saya kerukunan dalam keberagaman yang dimiliki Indonesia saat ini membawa pengaruh positif serta menjadi sumber kedamaian bukan hanya bagi penduduk Indonesia melainkan bagi seluruh penduduk dunia. Bahasa Arab yang sedang saya pelajari saat ini adalah salah satu upaya dan usaha saya untuk ikut serta dalam menanamkan dan menghidupkan kembali jiwa toleransi masyarakat Indonesia agar tercipta Indonesia yang damai dan bersatu. Toleransi ratusan juta umat Islam yang ada di Indonesia menjadi bagian dari tugas saya kelak saat mengabdi pada masyarakat. Saya akan sangat bersyukur apabila diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dalam perkuliahan ini serta menjadi generasi unggul kebanggaan bangsa Indonesia yang menjadi inspirasi dan ikut serta dalam menjaga kerukunan bangsa Indonesia serta memajukannya.


  






Tidak ada komentar:

Posting Komentar