Aku Generasi Unggul Kebanggaan
Bangsa Indonesia
Nandang Nurdiansah, Bahasa dan Sastra Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Indonesia
adalah negara yang terdiri dari berbagai macam agama, ras dan suku. Indonesia
bukan hanya milik satu golongan. Indonesia adalah milik kita semua, kita yang
hidup, tumbuh dan tinggal di bumi Indonesia. Tak terasa 71 tahun bangsa ini
telah merdeka. Pengorbanan dan perjuangan para pahlawan serta founding fathers
bangsa ini telah berhasil menyelamatkan kita, anak cucu mereka dari penjajahan
yang sangat menyengsarakan. Kita adalah generasi yang tidak perlu mengambil
bambu runcing berlari ke hutan bergerilya untuk berperang, tidak perlu beradu
senjata, kita hanya cukup melanjutkan kemerdekaan dengan berusaha mewujudkan
cita-cita luhur negara dan para pahlawan bangsa ini.
Menjadi bagian dari negara ini
membuat saya semakin bersyukur. Bersyukur atas keberagaman yang ada pada bangsa
ini. Dari Sabang sampai Merauke berbagai ras, suku, agama dan budaya adalah
anugerah serta ciri khas bangsa ini yang tidak dimiliki oleh bangsa apapun di
dunia. Kita adalah bangsa yang kaya, selain kaya dengan sumber daya alamnya,
kitapun kaya dengan keberagaman.
Akhir-akhir ini negara kita selalu
dikejutkan dengan berbagai permasalahan yang tak kunjung selesai. Salah satunya
adalah permasalahan sosial yang dilatar belakangi oleh perbedaan. Perbedaan
pendapat, pilihan, suku hingga agamapun kian meramaikan polemik yang terjadi
dikalangan masyarakat saat ini. Puncaknya adalah ketika pilkada DKI Jakarta
yang baru saja diselenggarakan. Hampir saja negeri ini kehilangan jiwa
kebhinakaannya. Perselisihan dan perpecahan terjadi dimana-mana. Golongan satu
dan golongan lainnya saling tarik urat saraf. Masyarakat terpecah kedalam
beberapa golongan serta saling menunjukkan bahwa kebenaran ada pada pihak
mereka. Sangat tidak harmonis lagi. Suasana semakin panas dengan adanya pengaruh
media sosial yang digunakan oleh para oknum untuk saling memprovokasi. Yang
menarik adalah, adanya sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa agamalah
sebab dari perpecahan ini. Ini sangat mengejutkan. Bagaimana ini bisa terjadi?
lalu benarkah agama adalah penyebab perpecahan dan perselisihan yang terjadi
selama ini?
Saat ini dikutip dari Badan Pusat
Statistik (BPS) tercatat ada enam agama
yang diakui di Indonesia. Enam agama tersebut adalah Islam, Kristen Protestan,
Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Penganut agama terbanyak adalah penganut
agama Islam dengan jumlah 207.176.162 jiwa atau sebanyak 87.18% dari penduduk
Indonesia seluruhnya. Konflik masyarakat beragama yang terjadi saat ini menyebabkan
semakin kurangnya rasa toleransi dikalangan masyarakat. Setiap golongan saling
menunjukkan bahwa merekalah yang paling benar. Pengaruh media sosial
dimanfaatkan oleh sebagian oknum untuk saling memprovokasi. Saling menjatuhkan
dan saling menyalahkan. Ada beberapa hal yang menyebabkan konflik dikalangan
masyarakat saat ini tak kunjung berhenti:
1. Kurangnya
ilmu dan pengetahuan masyarakat terhadap ajaran agama yang benar. Kita semua
menyadari bahwa ilmu dan pengetahuan yang benar bisa kita dapatkan di sekolah,
lembaga pendidikan, universitas dan tempat lainnya yang telah diakui oleh
pemerintah dan masyarakat. Hal lain yang juga mengejutkan kita adalah masih
banyaknya anak-anak Indonesia yang tidak mengenyam pendidikan yang telah
diwajibkan oleh pemerintah. Menurut data dari Pusat Data dan Statistik
Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2017 jumlah siswa putus sekolah jenjang
Sekolah Dasar mencapai 39.213 siswa.
Adapun pada jenjang sekolah Menengah Pertama jumlahnya mencapai 38.702 siswa.
Saat ini kita memang belum merasakan dampak yang nyata dari data diatas. Akan
tetapi sepuluh tahun dua puluh tahun di masa yang akan datang hal ini bisa saja
mengancam kita semua. Pemahaman serta pengetahuan masyarakat yang tidak sekolah
akan berbeda dengan mereka yang bersekolah. Mereka akan lebih mudah dipengaruhi
oleh paham-paham yang bertentangan dengan ajaran agama yang benar dan juga
paham-paham nasionalisme yang salah seperti radikalisme dan terorisme. Bukan
tidak mungkin jika hal ini dibiarkan keutuhan dan persatuan bangsa ini akan
semakin mudah digoyahkan.
2.
Masih
tingginya angka kemiskinan. Dimana-mana di seluruh pelosok negeri ini, kita
masih menemukan banyak sekali masyarakat miskin yang sangat kekurangan.
Kemiskinan tidak bisa kita biarkan karena dampak negatifnya sangat besar. Putus
sekolah, tidak melanjutkan pedidikan adalah buah hasil dari kemiskinan yang
dirasakan masyarakat. Pendidikan wajib yang telah disediakan oleh pemerintah
tidak berjalan lancar begitu saja, nyatanya masih banyak para orang tua yang
mengajak anak-anaknya untuk bekerja tanpa sekolah, bahkan yang semakin mirisnya
banyak anak-anak Indonesia yang sudah tidak lagi mempedulikan pentingnya
pendidikan. Banyak dari mereka yang memilih untuk tidak bersekolah. Dampak yang
lebih berbahaya adalah disaat kemiskinan menjadikan mereka melakukan segala hal
agar terlepas dari kemiskinan. Seringkali kita mendengar adanya beberapa
masyarakat yang rela menerima uang dengan syarat menjadi anggota kelompok
tertentu atau melakukan aksi dan perbuatan yang memicu konflik dikalangan
masyarakat.
Dua sebab inilah yang seringkali memicu konflik perselisihan dan
perpecahan dikalangan masyarakat. Konflik yang baru saja terjadi juga bukan
karena perbedaan agama yang dianut oleh masyarakat. Melainkan sebab yang paling
mendasarinya adalah dua hal diatas. Beberapa upaya yang harus segera kita lakukan
antara lain:
Pada sebab yang pertama, menurut saya upaya yang harus dilakukan
adalah kerjasama antara masyarakat dengan pemerintah. Wilayah-wilayah yang
masih sedikit lingkungan keilmuan dan pengetahuannya bisa mengadakan
kegiatan-kegiatan sosial yang secara tidak langsung mengajari masyarakat
tentang ilmu pengetahuan agama yang benar, misalnya apabila masyarakat setempat
adalah pemeluk agama Islam bisa diadakan pengajian rutinan. Adapun untuk
anak-anak bisa membudayakan ngaji di langgar-langgar, musholla ataupun masjid
yang juga diawasi oleh para orang tua. Untuk anak-anak yang putus sekolah,
pemerintah juga harus bisa mendata mereka dengan jelas yang dibantu oleh
masyarakat setempat atau pengawas lingkungan yang bersangkutan. Setelah mereka
terdata mereka bisa dikumpulkan dan diberi pengarahan ke arah pendidikan.
Tentunya hal ini memerlukan usaha yang lebih yaitu kerjasama yang konsisten
antara masyarakat dan pemerintah. Dalam hal ini saya dan generasi unggul
kebanggaan bangsa Indonesia yang lainnya berkomitmen akan ikut serta membantu
dalam menanamkan semangat belajar kepada mereka, memberi motivasi, bahkan
mendampingi mereka di wilayah kami masing-masing.
Pada sebab yang kedua, upaya pemerintah dalam penyediaan lapangan
pekerjaan harus lebih ditingkatkan. Setiap daerah harus memperhatikan angka
pengangguran supaya angka kemiskinan tidak meningkat. Disamping itu bantuan
kepada mereka yang benar-benar miskin harus tetap berjalan. Problematikanya
adalah masih banyaknya masyarakat miskin yang terkadang tidak mendapatkan
bantuan sedangkan masyarakat yang tidak terlalu miskin bahkan berkecukupan
terkadang mendapatkan bantuan. Hal ini juga kadang terjadi dalam dunia
pendidikan. Ada beberapa beasiswa yang diperuntukkan untuk mahasiswa miskin
berprestasi namun masih seringkali tidak tepat sasaran. Terkadang orang-orang
yang berkecukupan ikut mengambil jatah dalam beasiswa tersebut. Maka pemerintah
harus terjun ke lapangan, mengetahui secara langsung agar bantuan-bantuan
tersebut tepat sasaran kepada yang membutuhkan.
Oleh karena itu, segala usaha dan upaya untuk menjaga dan
meneruskan kemerdekaan bangsa ini harus segera kita lakukan. Toleransi menjadi
salah satu faktor pemersatu yang sangat penting dalam menjaga kedamaian bangsa
Indonesia, karena negara kita berdiri diatas keberagaman masyarakat yang
tinggal diatasnya. Jika jiwa toleransi mulai pudar dikalangan masyarakat,
konflik perselisihan dan perpecahan yang saat ini terjadi akan terus berlanjut.
Semakin lama konflik itu akan tumbuh semakin besar dan berbahaya. Dalam hal ini
peran para akademisi termasuk mahasiswa sangatlah dibutuhkan. Saya sebagai
mahasiswa jurusan bahasa dan sastra arab mempunyai visi untuk menjadi perekat
masyarakat. Menanamkan serta menumbuhkan kembali jiwa toleransi ditengah-tengah
mereka. Usaha saya dalam mempelajari bahasa dan sastra arab tidak lepas dari
tujuan untuk ikut menjaga persatuan bangsa ini. Karena bahasa arab adalah
bahasa agama Islam dan bahasa Al Quran. Mayoritas masyarakat Indonesia adalah
pemeluk agama Islam. Salah satu penyebab pudarnya toleransi dikalangan umat Islam adalah karena sebagian
besar dari mereka tidak memahami bahasa kitab suci mereka. Sehingga paham-paham
yang bertentangan dengan agamapun lebih mudah menyebar dan diikuti oleh
masyarakat yang minim ilmu pengetahuan agama.
Harapan saya kerukunan dalam keberagaman yang dimiliki Indonesia
saat ini membawa pengaruh positif serta menjadi sumber kedamaian bukan hanya
bagi penduduk Indonesia melainkan bagi seluruh penduduk dunia. Bahasa Arab yang
sedang saya pelajari saat ini adalah salah satu upaya dan usaha saya untuk ikut
serta dalam menanamkan dan menghidupkan kembali jiwa toleransi masyarakat
Indonesia agar tercipta Indonesia yang damai dan bersatu. Toleransi ratusan
juta umat Islam yang ada di Indonesia menjadi bagian dari tugas saya kelak saat
mengabdi pada masyarakat. Saya akan sangat bersyukur apabila diberi kesempatan
untuk melanjutkan pendidikan dalam perkuliahan ini serta menjadi generasi
unggul kebanggaan bangsa Indonesia yang menjadi inspirasi dan ikut serta dalam
menjaga kerukunan bangsa Indonesia serta memajukannya.